Rabu, 21 November 2007

SUTAN KUADRAT



Diwaktu kecil bernama si “ Oyon”. Terlahir dari seorang dukun beranak yang bernama Mak Ripin disebuah tempat terpencil bernama “ Curuk “ Bengkulu, pada 22 Juni 1956. Ia bangga sekali dengan tanggal kelahirannya, karena setiap tahun dirayakan oleh 11 juta penduduk kota Jakarta. Sebagai seorang ilmuwan ia bergelar Ir. Nizhamul Latif, M.Sc dengan jabatan peneliti. Dikeluarga ia bergelar Sutan Perhimpunan. Isterinya menyebutnya Sutan kwadrad. Karena didepan ada dibelakang juga nempel. Akhirnya setelah itu, gelarnya sepanjang tali beruk, yaitu : Haji Ir. Sutan Nizhamul Latif, Msc, gelar Sutan Perhimpunan. Gelarnya akan lebih panjang lagi, karena ditambahkan gelar “DOKTOR”, jika ia berhasil membiayai pendidikan S3nya. Cukuplah Ia senang pernah menjadi candidat doktor. Mudah-mudahan saja sebagai seorang peneliti ia akhirnya mendapat gelar Professor Riset.
Hobbya ketika kecil, melakukan aktivitas yang atraktif, maklum waktu itu tidak banyak permainan seperti sekarang, yaitu main sepak tekong, main potok lele, main petak umpet, termasuk suka usil dengan adik dan kakaknya. Mungkin ia termasuk hiperaktif. Karena itu, ia mendapat banyak larangan dari orang tuanya. Kreativitasnya selalu terbina dalam dirimya, berusaha melawan dunia orang (menurut istilah minang), maka sejak remaja jadilah ia sebagai seorang olahragawan dan bisa main musik. Pintar bermain piano dan gitar secara otodidak. Bahkan menciptakan beberapa buah lagu, walaupun tidak masuk dapur rekaman. Kalau lagi nyanyi Oke punya deh. Lagu favorit nya adalah Delilah, I start the joke, My way..wah pokoknya banyak deh… termasuk lagu minang “ bareh solok “.
Ia berjuang demi kesuksesannya. Masuk Fakultas Teknik UI nyambi ngajar les privat. Bekerja di Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi dalam jabatan fungsional peneliti, penuh tantangan dan rintangan. Ia bagaikan seekor semut dalam ketekunan. Semut berusaha merambat naik ke batang pohon hingga ratusan kali dan jatuh sebanyak jumlah yang sama. Namun ia berusaha sampai pada tujuannya. Karena ia menganut prinsip tidak mudah menyerah dan tidak pernah putus asa atas upayanya. Begitulah yang dialaminya di lingkungan kerja, yang ketat dengan budaya feodalisme. Sungguhpun ia bukan apa-apa dan bukan sebagai apa, namun ia tetap memiliki popolaritas dikalangan dunia industri sebagai seorang konsultan dibidang material, mechanical, industrial trainning.
Ditubuhnya ia memiliki energi yang luar biasa. Ulet dan tidak pernah capek. Anak dan isterinya, saudara kandungnya, kerabat dan familinya mengenalnya sebagai orang yang ingin serba cepat, cepat tanggap dan segera tuntas, tidak sabaran dan mudah meledak. Nafas orang yang terbiasa lamban dan lelet akan terengah-engah dibuatnya.
Perhatiannya kepada keluarganya luar biasa. Semua akan berdecak kagum dengannya. Anak dan isterinya selalu dalam rangkulan dan dekapannya. Ia mengiringi anak dan isterinya dengan segala perhatian penuh. Ia mengfasilitasi segala kreativitas anak dan isterinya. Akibatnya, anak-anak dan isterinya selalu tergantung kepada “Papa”nya. “Semua urusan jadi beres, bila ada Papa”. Orang yang tidak mengenal dirinya bisa menafsirkan lain, seolah ia suka membelenggu orang terdekatnya. Mau menang sendiri. Padahal diluar anak dan isterinya, para anggota kerabatnya juga sangat tergantung kepadanya.
Herannya, sebegitu besarnya perhatiannya pada keluarga besarnya, ia dikenal oleh sang kemenakan sebagai seorang “Om” yang galak. Sesungguhnya sebagai seorang “Oom”, ia menganut falsafah minang : Anak dipangku, kemenakan dibimbing. Para kemenakan tidak menyadari bahwa pekerjaan membimbing jauh lebih berat daripada memangku. Membimbing berarti melewati jalan yang benar sesuai dengan sistem dan prosedur (alur yang patut). Tidak ada hubungan dengan materi. Itulah sikap dan tanggung jawabnya yang ingin ia lakukan sebagai pria minang.dan sebagai Ninik mamak dikelaurga besarnya.

0 komentar: