Senin, 24 Desember 2007

KAMPIEH SIRIH

Bagi wanita zaman dahulu, baik suku manapun ia, budaya makan sirih adalah sesuatu yang lumrah. Konon katanya sirih bertambah nikmat, apabila disertai dengan sejumput tembakau dan dilumat bersama sirih tadi. Sirih pinang selalu dibawanya kemana-kemana, semata dengan maksud untuk bekal dalam mengisi perbicangan dengan sesama wanita. Kadang Sirih itu diperlukan sebagai obat, seperti : obat gigi, obat batuk, sebagai pemoles kecantikan, dll. Kampieh sirih dalam bahasa Minang artinya, tempat sirih. Didaerah kami, pabila hendak mencari jodoh maka seseorang yang bertindak sebagai mak comblang akan membawa sirih pinang dalam dompet kecil ini, yang disebut kampieh sirih. Sirih sebagai asesoris dalam melamar. Kampieh sirih terbuat dari daun pandan hutan yang dirajut seperti dompet dan mudah dibawa kemana-mana. Lain dalam kisah ini, si bungsu digelari dengan kampieh sirih, oleh ibunya yang dipanggilnya Nanak.
Kemana sang ibu, si bungsu selalu dalam genggamannya. Sadar tidak sadar ia telah menjadi kampieh sirih ibunya. Terlalu dini ia mengerti dunia orang dewasa. Ia mendengar, ia melihat, ia mengenal dan akhirnya ia menjadi reportase dari kegiatan orang tua. Baik dalam adat dan budaya. Sebagai reportase ia digelari “ si bijak”. Itulah nama panggilan yang paling tidak ia sukai ketika masa kanak-kanak dulu...
Sebenarnya tidak adil bagi saudaranya yang lain. Namun inilah namanya takdir. Takdir bagi seorang anak yang dilahirkan ketika kedua orang tuanya telah berusia 44 tahun dan 48 tahun.

Selasa, 11 Desember 2007

My parent


Bertemulah sepasang anak manusia ini, menjelang usia memasuki kepala empat. Disaat di pertemukan dalam jodoh yang abadi, masing-masing keduanya telah dikarunia anak, yaitu enam orang ditambah satu sama dengan tujuh orang. Setelah itu, ternyata Allah SWT masih memberkahi keduanya, sepasang anak, dalam perjodohannya yang terakhir itu. Bertambahlah jumlah anak bagi mereka menjadi sebelas orang. Subhanalllah….
Sang ibu melahirkan putri bungsunya pada usia 44 tahun dan sang ayah telah berusia 48 tahun. Kedua pasang anaknya itu tak perlu bersedih disaat bunda menghadap sang Khaliq, ketika anak mereka baru menapak kehidupan.
Perjalanan anak manusia, tidak ada yang mengira-ngira, tidak mudah ditebak, kecuali semuanya itu adalah kuasa Ilahi.Hanya anak yang menanam benih yang baik dan anak yang menyimpan budi baiklah yang senantiasa akan dapat mengembangkan sayapnya menuju puncak kesuksesan.
Disaat tubuh semakin renta, disaat tenaga semakin lemah, maka doa adalah sumber kekuatan yang tiada tara, dalam mengarungi bahtera kehidupan. Itulah yang tak putus-putus dilakukan keduanya. Untuk kebahagiaan anak-anaknya, untuk segala upaya yang dilakukannya demi mengentaskan anak-anaknya menjadi “urang”. Akal dan dan budi adalah warisan hati. Kejujuran adalah pegangan hidup.

Kini Disaat keduanya telah tiada, maka kini saatnya anak-anaknya, memohon kepada penguasa alam semesata, yang Rahman dan Rahim agar kedua orang tuanya mendapat tempat disisiniNya..
Selamanya kami berharap , agar kedua selalu menyaksikan bahwa anak-anaknya saat ini berada dalam keadaan bersatu dalam saling pengertian. Keduanya, kami banggakan karena mereka tidak meninggalkan harta, selain meninggalkan warisan hati nurani dan kesadaran dalam hidup bersaudara, yang dijalani dengan saling pengertian dan saling tolong menolong.